tentang perbedaan

perbedaan itu keindahan..asal tidak anarkis      dengan perbedaan berarti ada pergerakan        dengan pergerakan berarti ada kehidupan

Iklan

tentang kebenaran

seorang ilmuwan/pakar akan tahu persis apa yang dilakukan adalah benar….ada argumennya
tapi seorang pembelajar berusaha untuk ke arah yang benar..

kalau orang dengan kadar pengetahuan rendah
maka berada dipinggiran kebenaran sudah cukup benar

tapi orang bodoh malah menjauh dari kebenaran

mari saling mengingatkan untuk terus belajar mengejar kebenaran..

kalah menang yah jalani aja terus…yang penting jangan berpaling dari kebenaran……..

rumah besar itu

Orange-House-by-YAZGAN-Design-Architecture-4

Seperti biasa pulang kantor melewati jalan protokol, sesekali melewati kawasan elit. Banyak sekali rumah besar kayak istana yang walaupun asri dan megah, tetapi selalu terlihat lengang dan senyap, entah penghuninya kemana, dan mungkin di dalamnya hanya ada pembantu.
Kadang aku mengira-kira orang kaya bisa tidur di mana saja, hari ini rumah yang di jalan a besok rumah di jalan b, kadang juga tidur di jalan.
Orang-orang seakan berlomba membuat rumah besar di kota a satu, kota b satu, kota c satu dan seterusnya. Keinginan yang kemudian menjerumuskan pada mencari harta yang tidak halal, korupsi. Kadang aku berpikir ngapain punya rumah sebesar itu kalau hari-harinya sepi. Terjebak pada kesibukan.
Tapi tidak dengan rumah yang satu itu, rumah itu lumayan besar tapi tidak terlalu besar seperti istana, halamannya luas banyak pohon dan bunga-bunga. Hampir setiap pulang kantor aku lewati rumah besar itu.
Rumah yang satu itu selalu terang di sore hari dan terlihat begitu riang suasananya, sepertinya banyak sekali penghuninya.
Kau mengira itu hotel ? bukan, bukan hotel, yang kutahu bukan hotel, tidak ada tempat parkiran yang luas di situ atau resepsionis. Walau yang dating silih berganti. Pintunya selalu terbuka. Kadang terdengar suara ketawa bercanda tapi kadang ada juga yang menangis entah karena apa, tetapi selalu saja ada suara lain yang menenangkannya.
Sekali-sekali aku berhenti, hanya untuk memandang rumah itu, mencuri dengar pembicaran kadang-kadang bergumam ikut menimpali pembicaraan, aku ndak berani bersuara keras, karena takut mengusik penghuninya.
Tidak terasa aku berdiri di situ kadang sampai agak malam, aku tersenyum sendri dan heran dengan kelakuanku. Mungkin karena rasa sepi, belantara ibu kota yang panas dan sibuk, tapi rumah itu terlihat begitu sejuk, memantulkan aura keriangan. Sehingga aku seperti terhipnotis.
Kali ini aku hanya mampir sebentar memandangi lampu-lampu yang benderang, dan terus berlalu, pulang dan tidur.
Hingga pada suatu hari temanku menegurku karena heran menjumpaiku berhenti seperti biasa di ujung rumah itu, dan senyum-senym sendiri.
“hai!, ngapain kamu di situ senyum-senyum sendiri memandangi cahaya lampu?” aku kaget, sebentar.
“tidakkah kau dengan suara-suara itu, begitu riuh, tidakkah kau heran rumah besar itu begitu riang?” jawabku
Dahi temanku berkerut “?!”, “keriuhan yang mana?, aku tidak mendengar apa-apa.” Jawabnya
“sini!, cobalah berhenti sejenak, dan coba pandanglah seliling tidakkah kau lihat ada yang berbeda dengan rumah itu? Setiap rumah besar yang kita lewati sepulang kantor, selalu terlihat sepi dan suram walaupun ada lampu-lampu menerangi, tapi rumah ini lain, tidakkah kau merasakan suasananya ?” jawabku meyakinkan.
Kelihatan temanku tambah bingung, aku juga jadi ikut bingung dengan kebingungan dia.
“sudahlah, aku pulang duluan ya, sudah penat nih mau mandi” jawab temanku sambil berlalu dan geleng-geleng. Akupun melanjutkan perjalanan pulang, kupandangi sekali lagi rumah besar itu, sepertinya memanggil-manggilku, tapi tak kuhiraukan, akupun pulang.
…..
Hari ini pekerjaan agak kacau, ndak konsen, target laporan ndak selesai-selesai, aku kena tegur atasan. “ya pak, sebentar lagi saya selesaikan” jawabku sekenanya.
Hari ini aku bertekad untuk masuk ke rumah besar itu, sudah tak tertahankan lagi rasa penasaran itu. Kulihat jarum pendek jam dinding menunjukkan ke angka empat, akupun bergegas merapikan meja kerjaku, memasukkan laptopku ke dalam tas dan segera melaju kendaraanku menuju rumah itu.
Kali ini aku tidak mengendap-endaap, kuparkirkan kendaraan di halaman di rumah dan kuketuk pintu itu.
“Assalamu’alaikum…..,”
“bolehkan aku ikut menikmati suasana keriangan kalian?” sejenak dan kupikir hanya sejenak suasana diam, ada yang mengeryit, setelah itu cair lagi seperti biasa rame bahkan tambah rame malah.
Maka sejak sore itu akupun ikut, ngobrol bersama mereka. Ketika malam menjelang larut akupun pulang. Sudah tidak bisa dipisahkan lagi rasanya. Aku ingat waktu itu aku mengenalkan diriku.
“camar”
…………
Apakah harus ada ijin untuk suka
Apakah perlu alasan untuk cinta
Apakah harus ada sebab untuk menjadi gila

(selamat libur dengan gembira)

 

 

 

Karena kita manusia

dari : www.dreesc.wordpress.com

 

Kalau ada yang bertanya makhluk apa yang paling cantik, paling indah?
Mungkin ada yang menjawab bunga, kupu-kupu,..intan, zamrud…
Kalau ada yang bertanya makhluk apa yang paling perkasa ?
Mungkin ada yang menjawab kuda, gajah, ….dinosaurus?….
Kalau ada yang bertanya………..makhluk pintar sekaligus rapuh…
Mungkin ada yang mau menjawab………?
Manusia makhluq ciptaan Tuhan paling unik, makhluk paling sempurna, makhluk yang mempunyai banyak dimensi, banyak sisi, banyak wajah.
Ada ganteng ada yang biasa, ada yang cantik ada yang kurang cantik, ada yang pintar atau biasa saja. Dari itu semua ada juga yang dianggap manusia lain minus, walaupun sebenarnya kalau kita mau jujur pada diri manusia yang dianggap minus inipun ada banyak sisi kelebihannya bahkan pada orang-orang tertentu kita menyebut dengan bersorak “Amazing”, “luar biasa”.
Atau kalau kita mau jujur pada diri kita sendiripun dibalik kesempurnaan pasti ada minusnya.
Itulah uniknya manusia dibalik kesempurnaan ada kekurangan dan dibalik kekurangan ada kelebihan.
Dalam kesehariannya manusia tidak hanya berjalan pada satu sisi hitam dan putih atau gelap dan terang tetapi banyak warna, banyak sisi.
Pada dasarnya dari lubuk hati yang paling dalam manusia ingin berada di sisi yang terang, sisi malaikat sisi cahaya, sisi kebenaran, sisi nurani, sisi dimana manusia merasa ingin berguna, ingin memberi, ingin berbagi, ingin menjadi apa yang disebut manusia yang punya hati, punya belas kasihan, empati, simpati, Itu fitrah, itu manusiawi, itu sisi harapan sisi dimana manusia ingin menuju, ingin mengorbit matahari keilahian, ingin menjadi khusnul khotimah.
Di sisi lain manusia mempunyai nafsu, yang mempunyai karakter ingin menang sendiri, angkara, diri merasa paling benar, ingin menguasai segalanya, materi duniawi harta, wanita/pria, kedudukan, anak-anak yang banyak , berkecukupan kaya raya bahkan mungkin kalau perlu dunia hanya untuk dirinya saja, serakah, tamak dan ndak mau ngalah atau dikalahkan oleh orang lain, kalau perlu setiap langkah dia yang selalu menjadi juara, menjadi perhatian, menjadi pusatnya, semua orang bertanya kepadanya dan banyak lagi sifat angkara.
Manusia juga punya rasa ingin tahu, itu anugerah karena manusia memang di bekali Tuhan dengan akal yang dengan itu dia mencari, memuaskan dahaga ingin tahunya, mencari cara untuk menjadikan nyata harapan-harapannya, memilih jalan kebenaran, memilih suka dan tidak suka.
Beruntunglah manusia yang istiqomah, yang selalu membawa langkahnya pada sisi terang.
Namun kebanyakan, dalam langkah perjalanannya, manusia tidaklah selalu mulus seperti apa yang diinginkannya, perbenturan antara sisi terang dan gelap manusia, keinginan dan harapan, adakalanya yang namanya manusia teledor, lengah, tidak sengaja kejeglong, terperosok, jatuh, kejedud/kepentok, benjol, luka, sakit, merana, menangis, putus asa.
Dosa besar manusia : Seorang kyai menggauli santrinya tanpa hak, pastor/romo bercinta dengan biarawati sampai hamil, guru menyetubuhi siswinya, polisi memperkosa terpidana, hakim “bercinta” dengan terdakwa, tidak ada profesi tersisa yang tanpa kejadianmengenaskan ini, perampokan, korupsi, pemerasan penipuan, pembunuhan (kalau dirinci…ndak cukup satu halaman) semua kebejatan dilakukan manusia, tapi menurut saya kebejatan dosa besar seperti ini hanya dilakukan oleh manusia yang hampir habis nuraninya, sisi terangnya atau bahkan gulita. Masih adakah kesempatan ?
Pada umumnya manusia keterjedodan itu karena kekhilafan, ketidak tahuan, dijerumuskan, dan keterlanjuran, itu sebenarnya menyakiti diri sendiri, orang-orang yang dicintai dan orang-orang di sekitarnya kadang sahabat, teman, kekasih bahkan.
Dan hampir setiap manusia melakukan dosa kecil atau mungkin ada yang sedang-sedang saja.
Coba ngaku siapa yang yang nggak pernah kepeleset, nggak pernah jatuh, nggak keperosok, nggak pernah salah, lurus terus, putih terus, mulus
Ayo ngaku !? kalau ada angkat tangan, unjuk jari. Saya khawatir jangan-jangan itu bukan manusia, Jangan-jangan alien…….atau malaikat (mending).
Lha kamu gimana ? demikian juga aku dan kamu.
Mari kita berhitung dosa-dosa kecil dan sedang, kalau besar jangan sampai ya ! mungkin ndak cukup satu buku untuk menulis dosa-dosa kita, mungkin malah berbuku-buku.
Kalau saja Tuhan tidak menutupi aib, kemana kita mampu melangkah, menengadahkan wajah, berjalan menundukpun mungkin ndak bisa, karena tanahpun pasti mencibir…oh ternyata manusia ini seperti ini, bopeng, bla..bla …sifat jelek sederet, mengenaskan……………………………….
Alhamdulillah, kemudian Manusia dianugerahi Tuhan tabir penutup aib di dunia, untuk apa …..?
agar manusia bisa bernafas, berjalan menatap wajah lain, bertegur sapa,
Tuhan pun juga memberi manusia lentera, petunjuk arah bahkan kadang-kadang teguran dari berbagai sisi dengan demikian mudah-mudahan kesadaran timbul dan manusia bisa kembali,…. kepada sisi cahaya, kepada fitrah dan kebeningan,
Bahkan untuk keterlanjuran yang paling dalampun bisa dimaafkan, diampuni selama ruh belum sampai ketenggorokan, nyawa belum hilang dari badan. Seperti kisah manusia yang membunuh 99 nyawa ketika bertanya kepada manusia ahli ibadah adakah kesempatan untuk aku kembali? Tidak! Kata ahli ibadah, karena keputus asaan ditambahlah satu nyawa itu, genap 100 sudah menghilangkan nyawa. Adakah kesempatan ternyata ketika kita mau mencari dan terus mencari jalan hidayah itu masih ada, kesempatan itumasih ada, hanya kita perlu ketemu dengan orang alim yang bijak, yang bisa menunjukkan jalan pulang itu, dan mengatakan “Tuhan maha pemurah dan pengampun selagi engkau benar-benar ingin kembali ke cahayanya, berjalanlah menuju kebaikan itu, mencari kelompok kebaikan itu kesanalah hendak kamu menuju, dan jangan berpaling ke belakang, jangan berpaling kebelakang..”
Tidakkah kita ingin pulang, pulang kepada fitrah, pulang kepada cahaya? Menuju khusnul khotimah?
Akankah kita gunakan kesempatan itu ?

Hello world !, Assalamu’alaikum, pagi, indah hari ini !

ku coba membuat rumah baru untuk setiap kata yang terucap (maksud terketik.red) rumah baru yang luas dan fresh  …..  ayo masuklah! maaf belum ada perabotmasih lengang ya !

masih bau cat, belum ada hiasan belum ada karpet tempat kita bisa bercengkrama

aku suka kita bercengkrama di karpet sambil kita nonton tv

atau baca buku yang aku dan kau suka

baiklah, nanti kita tambahi sofa karena kau ingin, juga rak buku tentunya

mari kita rancang dulu biar indah biar nyaman,  .. biar asyik