kisah seorang ayah

me and my son

Aku tahu hatimu terluka
Apa yang kau raih tidak sesuai Harapan
Masih ada waktu tersisa untuk meraih yang kau citakan
Abi harap kamu tidak patah semangat
Abi minta maaf membebanimu dengan banyak harapan
Abi sayang kamu

Kalimat di atas saya kirimkan semester lalu, ketika saya dapati hasil raport anakku tidak menggembirakan, kulihat dia kecewa juga. Tapi apa boleh buat toh raport sudah keluar dan memang demikian hasilnya.

Dan kali ini kusampaikan (kira-kira seperti ini) :

Selamat ya, abi bangga padamu
meskipun abi ndak melihat kamu belajar (karena LDR)
abi juga dengar kamu sukanya ngegame
tapi ternyata kamu bisa membuktikan
bahwa kamu belajar dan mencapai hasil yang baik
abi bangga, mudah-mudahan kedepan lebih baik lagi
sekali lagi selamat ya anakku
abi sayang kamu

Alhamdulillah semester ini anakku mendapat pujian dari gurunya. Masuk ranking sepuluh besar. Tidak bermaksud membanggakan ranking (tapi senang juga sih), karena memang dalam pendidikan masih banyak aspek lain yang masing-masing anak dapat dipandang berhasil selain nilai akademik.
Tapi yang ingin saya sampaikan adalah apakah kalimat sms di atas dapat mengubah semangat dia sehingga bisa mencapai hasil yang lebih baik. Wallahu ‘alam.

Iklan

PUBER ke-2

Senin, 27 Agustus 2012

Bune kembali mengernyitkan dahinya melihat tingkah bapak.
Rasanya sudah beberapa kali bune memergoki bapak dengan tingkah seperti itu.
Pulang kantor bapak langsung mandi. Ganti baju, tapi tidak langsung keluar seperti kebiasaannya yang lalu.
Bune tidak mau membuat bapak kaget karena ketahuan akan tingkah lakunya itu.
Bune membawa teh panas dan pisang goreng mentega itu ke ruang tengah.
“pak !, tehnya bune taruh di ruang tengah” suara bune agak keras.
Dalam bayangan bune bapak sedikit terlonjak mendengar panggilan yang tiba-tiba itu.
“ iya bune. Matur nuwun”sahut bapak dari dalam.
Bune membawa nampan, kembali ke belakang.
Bune berpapasan dengan bapak yang keluar dari kamar. Dilihatnya wajah suaminya itu.
Dan senyuman itu, ya senyuman bapak kok ya kelihatan lain. Kelihatan manis bangeeet gitu. Bune jadi gemes. Dalam hatinya bertanya-tanya ada apa ini.
Bune melanjutkan langkah kakinya menuju dapur, tapi mata bune tidak lepas dari wajah bapak  yang tersenyum, sumringah.
Apa bapak sudah berubah? Hati bune bertanya-tanya penuh heran. Ah…..

Selasa, 28 Agustus 2012

“Assalamu’alaikum” salam bapak setelah menaruh sepatu di rak sepatu.
“Wa’alaikum salam warohmatullah,” jawab Bune sambil menyongsong keluar.
“Bune ambilkan handuk dulu ya pak!” setelah dilihatnya rambut bapak yang sudah sedikit memutih terlihat basah oleh guyuran hujan.
“Tas bapak ndak kehujanan khan pak?” Tanya Bune sambil mengambil Tas bapak.
“Ndak, ndak .., bapak pake jas hujan kok Bun.” “pake jas hujan kok ya rambutnya basah gitu” gumam Bune.
Bune berlalu, mengambil handuk dan segera menyerahkannya ke bapak
“Apa perlu bune masakin air untuk mandi bapak? “tanya bune .
“Ndak usah bune, ..”sambil berlalu menuju kamar mandi.
Seperti kebiasaan sepulang kantor selalu secangkir teh panas, kali ini bune menyuguhkan singkong goreng mentega. Terlihat cantik, singkong mekar seperti kuntum mawar kuning. Bune tersenyum.
Membawa nampan kembali ke belakang, sekilas bune melihat bapak menitikkan air mata di depan cermin. Bune cemas.
Kemarin tersenyum begitu manis. Kali ini menitikkan air mata.
Kemarinnya lagi menyisir rambut begitu lama. Apa bapak memasuki puber kedua ya?
Bune semakin cemas, sungguh cemas. Namun perasaan itu ditahannya.
Bune tahu bapak, sudah sekian belas tahun pernikahan, bapak ndak pernah macem-macem kok. “Apa karena bapak sering di depan laptop ya, tapi setahu Bune apa yang dikerjakan bapak biasa-biasa saja. Kata orang browsing baca berita, nulis, aduuh… “bune semakin cemas saja.

Rabu, 29 Agustus 2012

Suara motor bapak dari kejauhan terdengar. Bune tahu pasti itu suara motor bapak.
Karena setiap kali berbelok arah gang depan rumah bapak selalu membunyikan klakson tiga kali. Memberi aba-aba kendaraan lain yang mungkin lewat.

Kali ini bune sudah menyiapkan teh dan pisang mentega kesukaan bapak di ruang tengah.
Bune tidak mau mau lagi ketinggalan memperhatikan kelakuan bapak setelah mandi.
Bune duduk di tempat tidur menunggu bapak keluar dari kamar mandi.
Bapak sedikit kaget melihat bune duduk di tepian tempat tidur, tapi kemuadian tersenyum manis, maniiiis sekali.
“Ada apa Bune? Kok numben nungguin bapak keluar dari kamar mandi?”
Bune memandangi bapak beberapa saat.
“Bapak tahu bune mau menanyakan sesuatu sama bapak khan?” tebakan bapak tidak bisa ditepis lagi.
Bapak duduk di samping bune, bune memandangi lagi wajah suami tercinta dan “Bapak, apa bapak ndak merasa kalau bapak akhir-akhir ini berubah?” menanyakan sesuatu yang sebenarnya itulah perasaan dia.
Dipandangi wajah yang selama belasan tahun ini menemani. Tidak ada suara. Hanya mata bapak yang memandang penuh cinta. “Haruskah ini kutanyakan?” dalam hati bune mulai ragu. “Hmmm..” gumam bapak membuyarkan pikiran bune yang merambat entah mau kemana.
“Ada apa Bune?” akhirnya bapak bicara,bune menggeser duduknya menghadap ke bapak. “Beberapa hari ini bune perhatikan bapak sehabis mandi terus bercermin,” dipandanginya lagi lelaki yang mulai keluar uban di sana sini satu dua, “lalu…” bapak membelalakkan matanya “lalu… beberapa hari yang lalu bapak senyum-senyum sambil menyisir, hari berikutnya menitikkan air mata..” bune melirik bapak, bapak Nampak senyum-senyum membuat gregetan. Bune mengambil nafas, “kemarin senyum-senyum lagi,… ada apa tho pak?” diguncangnya tangan bapak.
Bapak memandangi wajah bune dengan tatapan sejuk, diselusuri semua lukisan wajah bune, wajah yang telah menemaninya sekian masa, wajah yang mulai kelihatan kerut-kerut kecil di dahi, di bawah mata, masih terlihat menarik seperti dulu, tidak terlalu cantik memang tapi ..ah itu, untuk menggambarkan kemenarikan bune terlalu subyektif.
Dipegangnya tangan bune, ditariknya kepangkuan bapak. “O..itu tho? Kenapa? Bune cemburu ya?” bapak mulai menggoda, bune melotot.
“Bune khan tahu bagaimana bapak, kita khan sudah sekian masa bersama ya khan?”
“Baiklah, bapak jelaskan..begini ketika bapak bercermin dan senyum-senyum sendiri terus bermanis-manis wajah, bapak Cuma ingin tahu senyum termanis bapak itu seperti apa, bapak suka bertanya dalam hati apakah selama bapak menemani bune, bapak sudah memberikan senyum terbaik bapak buat bune, apakah bapak lebih banyak memberikan senyum terbaik bapak untuk orang lain bukan untuk bune, orang yang begitu setia menemani bapak, melayani bapak, menerima adanya bapak, jadi bukan untuk orang lain bune” .
Bune mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca “bapak..” dipegangnya erat tangan bapak.
“Nah kalau ketika bapak berkaca dan menitikkan air mata, bapak melihat wajah bapak, kerut-kerut wajah bapak, rambut bapak yang mulai berkurang dan uban di sana-sini, bapak bertanya apakah bapak sudah menjadi suami terbaik? Apakah masa-masa yang sudah terlewati, adalah masa-masa bapak bisa memberi manfaat, apakah bapak bisa melewati masa-masa ke depan dan mengisinya dengan kebajikan, sepertinya hari-hari bapak Cuma bapak lewati dengan rutinitas, bapak merasa belum memiliki bekal, bagaimana jika bapak pulang dengan tangan hampa, sementara ibu komplain atas perlakuan bapak ke bune dihadapan Allah, lalu bapak harus bilang apa?…”
hening….Bune menitikan airmata, ada haru dan lega, dipandanginya bapak, hanya sebuah pelukan..ya hanya pelukan, tanda terimakasih yang dapat bune berikan ke bapak.
“Bune tidak akan complain ke Allah pak, yang akan bune katakan, bapak adalah suami terbaik buat bune, suami terbaik”…kalimat itu tak terucapkan, hanya pelukan yang semakin erat ke bapak.

EmOticOn

Saya pernah membaca sebuah kisah sufi.
Dari sebuah penerbitan pustaka hidayah.
Nama pengarangnya Idris.

Image

Kisah ini menarik (menurut saya), karena walaupun itu klasik tetapi ternyata relevan dengan jaman sekarang, hatta dunia cyber kita ini. Tapi entahlah……

Kisahnya begini, pada suatu hari ada seorang pemuda berjalan melewati pagar sebuah istana, tentu saja setiap pejalan yang lewat tak akan pernah melepaskan pandangannya dari istana itu.
Selain istananya sendiri yang megah dan artistik, dengan pilar-pilarnya yang menjulang, jalan serta tamannya juga tertata apik dan menawan. Sayang kalau dilewatkan. Tidak juga dengan pemuda ini. Dia berjalan seperti juga orang lain yang lalu lalang. Pasti terkagum melihat istana itu.

Entah sebuah keberuntungan atau kebetulan menyenangkan. Beberapa hari setelah saat pertama dia melintasi istana. Tiba-tiba jendela di lantai dua terbuka. Si pemuda tak hendak mengedipkan mata. Penasaran dengan apa yang ada di balik jendela. Dia takjub, mendapati seorang gadis menyembulkan kepalanya.  Dalam keterkejutannya, dia lengah sehingga hampir menabrak sebuah tiang lampu jalanan. Sang gadis melihat kejadian itu, tertawa tertahan. Ditutupnya mulutnya. Sebagaimana kebiasaan seorang bangsawan adalah tabu mempelihatkan gigi geraham ketika tertawa. Si pemuda berhenti mendadak dari melanjutkan perjalanannya. Dihadapkan badan dan wajahnya ke arah jendela. Sang gadis tampak melepaskan tangan dari sesungging senyum menawan di bibirnya. Dunia menjadi tampak indah bagi si pemuda. Ketakjubannya berubah menjadi semilir musim semi di hatinya. Sang gadis kembali menutup jendela dalam senyuman. Si pemuda kepayahan, mendapati gelora hatinya, yang bermekaran bunga aneka warna. Apadaya jendela telah tertutup, pulanglah dia dengan membawa sekuntum senyum menawan di hati.

Waktu berlalu, si pemuda telah berubah kebiasaannya. Hari-harinya dilalui dalam pengharapan. Dia kini rajin melalui jalan di depan istana. Lalu berhenti di depan jendela. Diam beberapa saat. Kadang dijumpainya sang gadis membuka jendela dan tersenyum ke arahnya. Maka dia akan pulang dengan membawa seulas senyum di bibirnya. Yang dibawanya sampai ke dalam mimpi. Tapi sering pula dia berdiri agak lama di depan jendela, pernah dengan seiikat kembang menawan yang sengaja dibelinya dari toko bunga, namun sang gadis tak jua menampakkan wajahnya. Maka gundahlah hatinya, dan akan termenung dia seharian tanpa hiraukan keadaannya. Begitulah, hingga berlalunya waktu, badannya mulai tidak diurusnya, kadang dia berdiri seharian di depan jendela istana. Maka lusuhlah dia, sayu matanya. Sampai suatu waktu sang gadis meminta penjaga istana untuk mengusirnya. Karena dianggap sudah mengotori pemandangan istana.
Berteriaklah si pemuda kepada sang gadis,”duhai dinda apakah gerangan salah saya sehingga anda meminta penjaga istana mengusir kanda?”
Mendengar teriakan itu sang gadispun menjawab,“hai pemuda, kamu telah merusak pandangan mataku dengan kekumalanmu”
“Mengapa dinda?, bukankah dinda selalu memberikan senyuman kepada kanda, mengapa sekarang malah dinda mengusir kanda?”
“hai pemuda, kamu salah sangka, ketika aku tersenyum ke arahmu, itu karena kulihat tingkahmu yang konyol, bukan karena hal lain. Maka salahkanlah dirimu sendiri untuk hal itu.”

Hancurlah hati pemuda, seperti lagunya si olga “hancur…hancurnya..hatiku… tralalalalalala…. “

Seperti pembuka ceritaku, bahawa cerita inipun dapat terjadi didunia cyber-jagat maya, emoticon  🙂  😀  jempol dan lain sebagainya bisa berarti berbeda dari apa yang dimaksud pengirimnya.
Maka berlaku bijaklah menerima kiriman emoticon atau siap-siaplah untuk merana……………  jika kalian (kalian???,   loe kaleeeee) salah mengartikannya.

Ini hanyalah kisah lama…. 🙂 ……….. mari terjaga 🙂

sepucuk rindu dari Adelaide

Assalamu’alaikum dek,
Apa kabarmu dek? Bagaimana kabar ibu dan adek-adek? Semoga kalian semua baik-baik saja. Maafkan kakak karena kesibukan jarang berkirim kabar, apalagi harus nyiapin salsabella sekolah, rencananya di Ascot Park Kindergarten itu di 630 Marion Road. Kau tentu akan kaget melihat perkembangan bella, dia cantik seperti dirimu, lebih Indonesia hanya rambutnya sedikit pirang seperti rambut ibunya. Kami sekeluarga Alhamdulillah baik.

Ya, sudah cukup lama juga ya dek, kakak tak berkirim kabar,ibu sehat khan dek? Salam sujud untuk ibu ya, sampaikan juga salam kakak iparmu pada ibu, kakak kangen sama masakan laut ibu, disini jarang hampir tidak pernah jumpa masakan khas daerah kita, memang sih ada teman-teman dari Indonesia, seperti lebaran tahun lalu, menu utamanya opor dan lontong yah itu memang masakan favorit lebaran ya.

Banyak kenangan disini, ingat ketika kau dulu masih secondary schools, sepulang sholat di masjid kamu selalu ngajak kakak jalan ke Marion Library Service, katamu di sana kamu seperti di surga dengan segudang buku-buku yang bermutu, sampai-sampai membuat banyak orang menoleh karena tingkahmu dek, ingat? Kau memasuki library sambil menari-nari, kagum pada buku-buku yang berjejer rapi dan banyak.
Dan dalam satu kesempatan kau berkata “kak, suatu saat nanti aku akan buat surgaku sendiri” “apa itu dek?” “akan kubuat perpustakaan yang nyaman di rumahku sendiri, di sana akan kukumpulkan buku-buku yang bagus-bagus, nanti kakak boleh kok ikut bermain di dalamnya” amin kataku. Kamu masih ingatkan ?
Lantas lelah dari library kita jalan-jalan ke Daws road, pilihan kita kebab yang enak dari Lebanon restoran, tempat halal food kesukaanmu juga kesukaan kakak, kamu bisa menghabiskan dua picis, hmm saosnya enak katamu sambil mengusap lelahan saos mayones dibibirmu yang memonyong karena penuh suapan kebab.

Saat ini lagi late winter dek, (musim dingin di Australia adalah Juni/Juli/Agustus), udaranya ndak terlalu dingin, berkisar antara 8-20 degree C. Matahari masih bersinar cukup terik di siang hari, bahkan semalam turun hujan. Di Bogor masih banyak hujankah dek? Gimana kuliahmu dek? Cepat selesain ya dek dan cari bea siswa S2 dan kita boyong ibu dan adek-adek ke Adelaide seperti impianmu, bisa tinggal lagi disini Adelaide.
Condada Avenue masih seperti dulu dek, disini suasana masih nyaman tidak terlalu bising seperti kota Jakarta, atau Bogor yang katanya sudah mulai macet. Halaman rumah kita mulai di tumbuhi banyak bunga karena kakak iparmu suka sekali berkebun sudah asri dek, tidak seperti dulu ketika kita pertama tinggal disini, jadi kapan kamu dan ibu ke Adelaide dek?

Kakak tunggu kabarmu dek, sekali lagi sujud untuk ibu dan kangen untuk adek-adek, oh ya salam sayang dari ponakan Salsabella.

Dari kakakmu sekeluarga

DRAMA SATU BABAK

(pencahayaan temaram, ada sinar dari jendela dan lampu baca 5 watt menyorot kertas-kertas di meja yang agak berantakan)
Frand melangkah mendekati jendela dengan gontai.
“bukankah sudah kukatakan padamu, akulah player, akulah pemain hati, akulah liar?!!!”
( Frand berteriak sambari tangannya menunjuk tidak jelas arah, badannya berbalik, tangan menjambak rambutnya sendiri, nafasnya tersengal, lalu duduk di kursi di sudut kamarnya, dan berdiri lagi…)
“sudah kubilang jangan dekati aku..”
(suaranya geram..memukul angin)
“tapi kau nekad juga!”
(tangannya memukul meja di sudut kamar)
“jangan dekati aku….”
“kamu bodoh….!”
(Suara penyesalan, dan kembali menjambak rambutnya)
Ada penyesalan di hati Frand kenapa begitu tega memperlihatkan kemesraan dengan selvy di depan Enu.
Enu yang terlihat tegar di mata Frand ternyata begitu rapuh, hingga nekad ingin mengakhiri hidupnya.

(di stage yang lain, Enu terkulai, wajahnya pucat pasi karena kehabisan darah, sementara jarum infus menusuk nadinya mengalirkan cairan bening ke tubuhnya, Ibu tampak gelisah melihat kondisi Enu, serta adiknya mengamati sambil memijit-mijit tangan kanan kakaknya, sementara tangan kiri Enu berbalut perban, mEnutupi jahitan bekas luka sayatan di urat nadi)
“Enu, kenapa kau lakukan ini nak?” suara lirih Ibu Enu kelu
“Ibu mengirimmu ke sini kota hujan agar kamu bisa membanggakan Ibu,”
“Ibu ingin kau selesaikan kuliahmu dan..”
suara Ibu menjadi parau, ada buliran air mata yang hendak luruh namun segera disekanya dengan ujung lengan baju.
Kecintaannya pada anak perempuan semata wayang menambah kesedihan di lubuk hatinya.
(seorang suster masuk mendekati Ibu, dengan suara yang lembut mengingatkan bahwa jam bezuk sudah habis)
“maaf Ibu jam bezuk untuk pasien sudah habis, biar kami yang merawatnya bu” kata suster jaga kepada Ibu
“saya Ibunya nak, saya harus menjaga anak saya yang belum siuman itu..”pintu Ibu memelas
“ndak apa-apa Ibu, anak Ibu hanya terlelap karena obat penenang, nanti pasti siuman” suster meyakinkan Ibu
“tapi nak?,”
(tangan Ibu menggapai suster, dan mencengkeram dengan tatapan memelas)
(suster memandang Ibu dengan senyum, sambil melepaskan tangan dan mEnuntun Ibu keluar ruangan)

(belum sempat suster, Ibu dan adik keluar ruangan)
Tiba-tiba Frand menerobos masuk, membuat kaget Ibu, adik dan suster.
Segera suster memegang tangan Frand
“maaf mas jam bezuk sudah habis”
(Frand menyibakkan tangan suster sambil berteriak …
“Enu…. Maafkan aku Enu!”
“Enu kenapa kau melakukan ini Enu?”
“Enu bangun Enu!..”
“mas..mas maaf, silahkan keluar.. jam bezuk sudah habis, nanti mas boleh datang lagi..” suara tegas suster mengingatkan Frand.

Ibu sedari tadi memperhatikan Frand, seperti ada segumpal es menyelusup dalam hatinya, melumerkan kesedihan, terbayang peristiwa kerusuhan 1998.
(background stage, menyorot lcd projector film peristiwa kerusuhan 1998, peristiwa yang memporakporandakan banyak keluarga, termasuk keluarga Ibu, ada suara jeritan di sana, anak yang terpisah dengan keluarga, keluarga yang kehilangan anggotanya)
Ibu berusaha berdiri mendekat memperhatikan dengan seksama sosok yang sedang menyesali kelakuannya di hadapan anaknya.
Meskipun Ibu sendiri tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ditangkupkan tangan ke mulutnya, “Frand… engkaukah ini” bisik kepada dirinya sendiri.
“Frand…?!” Ibu menyebut nama itu agak keras, yang empunya nama menoleh sejenak, dan tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya,
Narrator : terbayang kembali peristiwa itu, ketika itu usianya baru 10 tahun, pulang dari sekolah semuanya berantakan, dia kehilangan Ibu dan adik-adiknya, dan kemudian dia mendengar ayahnya telah jadi korban peristiwa itu. Sementara dia tidak tahu kabar Ibu dan adik-adiknya. Sampai kemudian dia diangkat anak oleh sebuah keluarga tentara.
“Ibu…, ini Ibu……?” Frand segera memeluk Ibunya dengan berurai air mata, Ibupun seakan tidak ingin melepas lagi putranya yang dulu hilang…..
Enu yang terbangun karena ribut-ribut , hanya tertegun mendengar Frand memanggil Ibu dan memeluk ibunya.

pinta anak bidadari

nelayan di buritan berseru
hai lihat serombongan camar terbang menuju senja
hendak kemana akan dituju?
kenapa begitu riang?
kenapa begitu gembira?
seekor camar yang mendengar pertanyaan itu menoleh dan tersenyum menjawab “kami hendak mengantarkan pinta”
pada siapa dan tentang apa?
tidakkah kau dengar tentang Penguasa Malam yang mengabulkan semua pinta?
Kami hendak mengantarkan pinta anak bidadari
Apa ? anak bidadari ? kami sudah lama tidak menjumpainya kata nelayan
Ya, anak bidadari kemarin dia meminta seorang pangeran khayangan, bukankah selayaknya permintaan baik itu kita bantu untuk menyampaikannya? jawab camar itu
Ya, selayaknya demikian, tapi kami harus menjala ikan untuk anak istri kami
dan petunjuk banyak ikan adalah kalian, bagaimana kami menandai sekelompok ikan? tanya nelayan
sudah kusampaikan pada ikan untuk mendekat pada kalian, baiklah kami harus pergi
terimakasih, sampaikan pada Penguasa Malam kami ikut serta berdoa untuk terkabulnya pinta itu !
dan serombongan camar itupun terbang ke arah senja
membawa pinta anak bidadari , dalam gulungan kertas suci

dIGiTaL wOrLd

google

Dunia maya..
Aku merasa begitu absurd dan kemudian terasing
Kadang kurasakan sentuhannya begitu manis lembut..selembut isi roti sus rasa moca
Aku begitu menikmati kelembutan itu, sentuhan itu..hati terbawa dan bertanya inikah nyata?
Atau hanya belaian angin malam yang walaupun sejuk membuatku masuk angin dan meriang
Kadang ada bisikan rindu, rindu yang sangat, seperti melihat rembulan bundar dan purnama begitu dekat, sangat dekat ..tapi tak terjangkau

Di saat lain membuat jantung berdegup, dag dig dug..talu bedug di surau sebelah rumah tidak sekencang ini, ini seperti hampir meledak.. seperti balon besar yang menggelembung besar sampai ku merasa sesak tiba-tiba kempis dan akupun terhisap

Aneh, sangat aneh seperti terlempar ke padang tundra tanpa pepohonan dan sekejap kemudian ku kedinginan dan menggigil seperti salju yang tiba-tiba turun ketika kau berjemur di pantai
Seperti berjalan di padang pasir berharap tukang es cendol lewat, meneguk kemanisannya dengan harga murah

Aneh, melihat dan mengamati, dilihat dan dimata-matai, bersuara tak tik tuk dan dikomentari dan kitapun tertawa sangaat lepas, lepas sekali seperti mendengarkan lagu cadas dengan volume keras, tanpa mengganggu tetangga walau kita merasa kamaar kita akan jebol
Kadang menggelitik, kita kegelian dan tersipu sampai menutup muka bahkan terkadang pakai bantal

Apakah kau juga merasa seperti itu?
Adakah kejujuran di dalamnya?

Karena semua terlihat ternyum dan tertawa, menyapa dan bercanda, berjabat dan merangkul, seperti teman atau sahabat lebih dekat bahkan seperti sepasang kekasih
Adakah kau yakin akan itu semua ? tentang.. … ya…….segala tentang… yang ada di dalamnya

Seperti dunia nyata maybe,
bahwa di dalamnya ada hitam dan putih, ada merah dan kuning, ada biru dan hijau, ungu mungkin atau coklat atau kau suka warna lain ? boleh ..boleh..ya orange kita suka orange..
begitu beragam indah terjalin, kadang kontras dan kontradiktif, berbenturan keras, kemudian amarah, kalau di dunia nyata, terluka bisa fisik atau jiwa..
di sini luka tidak kentara,
tidak terlihat, meskipun berdarah-darah,
parah dan bisa jadi menggelepar seperti ayam potong pak jono penjual soto, setiap sore dia memotong dua ayam kampong dibelakang rumah, dan melemparkannya dalam kurungan dan membiarkannya ayam menggelepar memercikkan darah kemana-mana dan pak jono tidak peduli hingga sampai ayam itu berhenti bergerak..
tidak sampai itu saja..telah disiapkan air mendidih untuk mengulitinya….sakit…sakit sekali

Nasehat buat adekku
Dek, sudahkah kau mengerti tentang itu semua?
Sudahkah kau belajar konsekuensinya?
Sudahkah kau persiapkan jauh di dalam lubuk hatimu, p3k kalau terluka
atau ambulance atau mungkin rumah sakit canggih yang bisa mereparasi hati?
Dek, dunia ini kadang kejam, kejam dengan bungkus warna-warni mempesona,
kalau tidak bisa melihat isi kau tertipu,
meraih keindahan dalam racun yang melumpuhkan,
menggerus rasa bahkan mematikan cita-cita, tidakkah kau tahu dek?

Dek, sudahkah kau tahu tentang cara memilih dan memilah?
Yang pait dan yang manis?
Yang nyata dan hanya bayang-bayang?
Yang perangkap dan yang tulus?

Aku sedang tidak membicarakan sesuatu yang putih
Aku sedang membicarakan sesuatu yang hitam dan abu-abu

Nasehat itu bukan untukmu saja dek, tapi untukku terutama untukku
Aku akan membagi hatiku dalam bilik-bilik
Dan kusiapkan gembok tanpa kunci
Sehingga bila satu bilik hatiku luka
Aku akan menggemboknya
Tanpa pernah lagi membukanya
Kecuali hanya untuk melihat pintu kenangan

Sudahkah kau tahu itu dek?