Allah – Rabbul’alamin

Allah,
hamba hanyalah makhluk-Mu
yang Kau cipta dari setetes air mani yang hina yang bercampur
lalu Kau sempurnakan hamba dalam rahim Ibu
9 bulan penantian
dengan segala keajaiban kejadian (http://lailizah.tripod.com/proses_kejadian_manusia_menurut_al-Quran.htm)
nutfah
alaqoh
mudghoh
idhomah
lahm

kini hamba disini
dengan segala kebodohan
lupa kejadian
mengabaikanMu

berilah hamba kesempatan
mengenalMu dan mencintaiMu
berilah hamba petunjuk

Iman Terhadap Rububiyah Allah

oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Iman terhadap Rububiyah Allah, artinya mengimani bahwa Allah semata sebagai Rabb, tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya. Rabb artinya adalah yang mencipta, menguasai, dan memerintah. Itu artinya tidak ada pencipta selain Allah. Tidak ada penguasa selain Dia. Tidak ada perintah kecuali wewenang-Nya. Allah ta’ala berfirman,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, segala penciptaan dan urusan adalah menjadi hak-Nya.” (QS. al-A’raaf: 54).

Allah berfirman,

ذٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

“Yang berbuat demikian itu adalah Allah Rabb kalian, milik-Nya lah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain-Nya tidak memiliki apa-apa walaupun hanya setipis kulit ari.” (QS. Fathir: 13)

Tidak pernah diketahui ada seorang pun di antara manusia ini yang mengingkari rububiyah Allah Yang Maha Suci kecuali karena faktor kesombongan dan tidak dilandaskan dengan keyakinan atas apa yang diucapkannya. Hal itu sebaagaimana yang terjadi pada diri Fir’aun ketika dia berkata kepada kaumnya,

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi.” (QS. an-Nazi’at: 24).

Dan dia mengatakan,

يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرِي

“Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui bagimu ada sesembahan selain diri-Ku.” (QS. al-Qashash: 38).

Akan tetapi apa yang diucapkannya itu bukan muncul dari keyakinan hatinya. Allah ta’ala berfirman,

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا

“Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.” (QS. an-Naml: 14).

Musa berkata kepada Fir’aun, sebagaimana dikisahkan oleh Allah tentang ucapannya itu,

لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

“Sungguh kamu telah mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi. Dan sesungguhnya aku menduga bahwa dirimu benar-benar akan binasa, wahai Fir’aun.” (QS. al-Isra’: 102)

Oleh sebab itulah orang-orang musyrik dahulu telah mengakui rububiyah Allah ta’ala padahal mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam hal uluhiyah-Nya. Allah ta’ala berfirman,

قُل لِّمَنِ الْأَرْضُ وَمَن فِيهَا إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ

“Katakanlah (Muhammad): Milik siapakah bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya jika kalian mengetahui? Niscaya mereka akan menjawab: Milik Allah. Katakanlah: Apakah kalian tidak ingat? Katakanlah: Siapakah Rabb yang menguasai langit yang tujuh dan Rabb yang memiliki Arsy yang agung. Niscaya mereka akan menjawab: Itu adalah milik Allah. Katakanlah: Lalu mengapa kalian tidak mau bertakwa? Katakanlah: Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedangkan Dia yang Maha melindungi dan tidak ada yang dapat terlindungi dari siksa-Nya, jika kalian mengetahui? Niscaya mereka akan menjawab: Itu semua adalah milik Allah. Katakanlah: Maka bagaimana kalian bisa tertipu?” (QS. al-Mukminun: 84-89).

Allah ta’ala berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, maka niscaya mereka akan menjawab: Yang menciptakan itu semua adalah  Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 9).

Allah berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).” (QS. az-Zukhruf: 87)

Urusan Allah Yang Maha Suci meliputi urusan kauni (alam) dan urusan syar’i (syari’at). Sebagaimana Allah adalah pengatur alam semesta dan pemutus perkara di dalamnya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya dan menurut ketetapan hikmah-Nya. Maka demikian pula Allah menjadi hakim/pemutus urusan di dalamnya dengan mensyari’atkan berbagai macam ibadah dan hukum mu’amalah sesuai dengan tuntutan hikmah/kebijaksanaan-Nya. Barangsiapa yang mengangkat selain Allah sebagai pembuat syari’at bersama-Nya dalam perkara ibadah, atau menjadikannya sebagai hakim/pemutus urusan dalam hal mu’amalah, maka sesungguhnya dia telah mempersekutukan Allah dan belum dianggap mewujudkan keimanan

(diterjemahkan dari Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 84-85 cet. Dar ats-Tsurayya tahun 1417 H)

 

copy paste dari : http://abumushlih.com/iman-terhadap-rububiyah-allah.html/

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s