Rambut jatuh di telapak tanganku

Ada apa dengan rambut yang jatuh?
ah, tidak ada apa-apa, itu peristiwa biasa, bahwa  rambut kadang-kadang memang harus lepas dari kulit kepala sebuah keniscayaan, bukan begitu?

Sehelai rambut yang jatuh, satu peristiwa kaupun mengalaminya. Semua orang mengalaminya. Toh besok bisa tumbuh lagi, mungkin perlu sampo bagus untuk menguatkannya. O iya kenapa tidak beli sampo penguat rambut saja.

Lama, belum terlalu lama sepertinya, aku masih ingat rambutku pernah sebahu, agak aneh menyadarinya, ketika kubuka album wisuda, lho ternyata penampilanku pernah seperti itu, tanpa sadar bahwa dulu sepertinya aku adalah bagian dari generasi kuper. Ternyata pernah juga memiliki penampilan sebagaimana mahasiswa yang lain berambut cukup panjang, ku hanya bisa tersenyum mengingatnya.

Kupandangi lagi sekali lagi rambut itu. Ingin kutunjukkan rambut itu kepadamu. Kenapa waktu berganti dan kita tak menyadarinya. Hanya bagian kecilnya saja kita menyadari. Bahwa itu biasa dan akan demikian saja.

Besoknya kita kembali pada kesibukan kerja dan melupakan kejadian ini. Masih banyak sekali peristiwa penting yang perlu perhatian.

Dan mari kita bercanda lagi seperti biasa, toh besok kita bisa beli sampo yang bagus.

Seperti juga daun pada tangkainya, kita selalu melihatnya dalam keadaan hijau? Kalau toh kita lihat daun yang gugur itu hanyalah bagian dari tambahan pekerjaan, kita harus menyapunya supaya halaman ttidak terlalu kotor. Hanya sebatas itu saja. Tanpa kita sadari peristiwanya setelah pucuk, mengembang, hijau kokoh, seakan tak akan lepas dari tangkai. Sampai kemudian waktu yang membelainya perlahan, membisikan, memberitahu, sudah cukup waktu hijaumu, kini kamu sedikit kekuningan lalu menguning dan angin seakan mengajak menikmati ayunannya perlahan melayang dan jatuh ke tanah. Ah biasa saja.

Dan demikianlah, ternyata kini generasi telah berganti, yang muda kini dalam posisi sebagai mahasiswa, yang dulu murid sekolah, kini sudah mahasiswa. Pernahkah kau menyadarinya ? Bahwa waktu-waktu yang lewat itu seperti daun hijau yang menguning dan berganti dengan pucuk-pucuk baru? Di bagian mana kini kamu berada? Perasaan sepertinya tidak ingin berpindah, kalau bisa terus bercanda bersama teman-teman, sesuatu yang mengasyikkan tentunya.

Lalu kuingat reuni kemarin panitia menghitung berapa teman satu angkatan yang telah tiada satu, dua, sepuluh? Ah ternyata sudah belasan. Berapa usiaku berarti ? Kenapa aku tidak pernah menghitung? Membiarkan hanya lewat begitu saja, seakan-akan itu hal yang biasa-biasa saja.

Ingin kutunjukkan kepadamu rambut yang jatuh itu.
Rambut yang jatuh di telapak tanganku kini berwarna putih.
Waktu membisikan sesuatu ke telingaku.
Dan aku masih menggunakan earphone di telingaku mendengarkan music kegemaranku.

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

7 tanggapan untuk “Rambut jatuh di telapak tanganku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s