DARA

jodoh?
jodoh?

“pak, bapak perhatikan ndak? Itu si dara putrinya lek sapto?” suara bune merdu sambil menyuguhkan teh panas dan singkong goreng mentega kesukaan bapak. Sore itu hujan rintik-rintik, sesekali matahari mengintip di balik awan kelabu. Bapak yang lagi pegang Koran sore menoleh, “emangnya ada apa dengan dara, bune?”
“itu lho pak, dara kok jarang banget keluar rumah dan bergaul gitu, kerja sudah, pulang kerja langsung masuk rumah dan ndak keluar-keluar?” bapak mencoba mencerna apa yang dikatakan bune.
“kalau dilihat usianya khan sudah waktunya untuk cari jodoh” bune mulai serius nih.
“lha kalau perempuan jarang keluar rumah bukannya bener gitu bune?” jawab bapak

“ya sih, maksud bune, dara khan sudah waktunya nikah kalau boleh dibilang begitu”
“terus?” Tanya bapak
“lek sapto pernah bilang ke ibu tolong dicarikan jodoh buat dara”
“lha bune sudah nyarikan?”

“sik tho pak, bune cerita dulu…” bune mulai agak sewot bapak kayaknya ndak ngerti maunya bune
“gini lho pak, bune pernah ke rumahnya lek sapto, itu si dara kerjanya duduk di depan computer itu lho yang tipis kayak punya bapak..” “laptop” “ya laptop, kelihatannya sih kerja ketik-ketik gitu, tapi tiba-tiba senyum dan ketawa sendiri…, lha bune khan agak gimana gitu?”
“hmmm” suara bapak sambil membalik Koran mencari sambungan berita di halaman 7
“pak,.. “ suara bune agak keras “bapak dengar ndak sih apa yang bune bilang?, kok Cuma hmmm, hmmm?”

“hmm” bapak menggoda bune, diliriknya bune yang lagi melotot.
“pak…!” bune mulai emosi, bapak senyum tambah lebar “denger bune, iya mungkin dara baca cerita yang lucu jadi tersenyum dan ketawa ndak masalah khan?”

“bapak ini, pernah bune Tanya ke lek Sapto, katanya hampir tiap hari begitu, khan lek Sapto juga khawatir, bune juga ikut khawatir pak” bune diam sejenak, bapak diam.
“bune diminta nyarikan jodoh, lha kalau anak gadisnya senyum-senyum sendiri gitu gimana?”
“bune…bune…. Ndak apa-apa… itu dara ndak apa-apa, lha kemarin ketemu bapak ngobrol panjang lebar tentang pekerjaannya, baik-baik saja gitu lho?”
“bapak ini gimana sih…” bune mencoba mempertahankan pendapatnya.
“bapak ngerti, bapak paham apa yang bune khawatirkan” bapak menggeser tempat duduknya dan melipat Koran sore, bune juga mendekat ke bapak sehingga mereka tampak dekat sekali berhadapan wajah. Mereka bertatapan sejenak, bapak tersenyum, bune memandang lekat ke wajah bapak menunggu apa yang akan bapak katakan.
“gini lho bune, itu dara mungkin sedang membaca blog, atau fb-an atau twiteran, bune tahu khan ? seperti yang pernah bapak kasih lihat ke bune waktu itu?” bune mengangguk kecil

“nah, mungkin ada teman blognya, fb-an atau twiternya yang berkomentar lucu sehingga dia tersenyum atau mungkin tertawa” bapak mencoba menjelaskan
“memang teknologi sekarang bisa bikin orang ngomong sendiri, tersenyum sendiri dan juga tertawa sendiri”
“kok kayak ramalannya ronggowarsito ya, jaman edan semuanya jadi edan..”
“lha kok bune bisa bilang begitu?”
“lah itu kata bapak, kalau dulu di jalan orang ngomong sendiri, tersenyum sendiri, tertawa sendiri dibilang ndak waras alias edan, sekarang bune lihat orang jalan ngomong, tersenyum dan tertawa sendiri… e.. ngga tahunya telinganya ada kabelnya” bapak tersenyum, memang benar apa yang bune bilang, sekarang banyak orang yang ngomong sendiri, tersenyum dan ketawa sendiri di jalan, di mall dan hampir di mana saja.

“pak terus tentang dara gimana?”
“gimana apanya, bune?” Tanya bapak
“jodoh, kita nyariin jodoh dia, tapi bune juga ndak ngerti apa bisa nyari jodoh lewat komputer pak?”
wah pertanyaan bune menggelitik bapak untuk mengerti lebih jauh apa maunya dara.
“bune coba besok sore bune ajak dara ke rumah kita, kita ajak ngobrol-ngobrol”

“iya pak, bune juga penasaran pengin tahu apa dia nyari jodoh lewat komputer?”

Sore itu bapak pulang lebih awal, bune sedikit kaget dibuatnya. Bapak kelihatannya serius.
setelah mandi sore bapak duduk dan memanggil bune
“bune sini, bapak sudah punya beberapa alternative untuk jawaban si dara”

“Kalau dara diminta berhenti menggunakan computer/laptop rasanya kok ya ndak bijaksana” kata bapak, bune serius mendengarkan..
“Kalau langsung dicarikan jodoh saja, jaman sekarang apa ya dianya mau? Walaupun kalau kedua belah pihak niatnya tulus, maka bisa jadi keluarga sakinah”
“mungkin meminta dia lebih bergaul dengan dunia luar ya bun, coba lihat teman sejawat mungkin ada yang cocok”

“apa dara punya kriteria yang khusus ya untuk pasangannya?” Tanya bune sebenarnya lebih pada bertanya untuk dirinya sendiri

“bisa jadi sih, tapi menurut bapak kriteria target pasangan jangan saklek atau harga mati, kecuali terkait iman/agama yang ini ngga boleh ditawar. Artinya kriteria nilai 100 tapi kalau ketemunya 80 mestinya sudah cukup untuk bisa dieksekusi”
“lho pak dieksekusi gimana? Kayak hukuman mati gitu? “ Tanya bune agak kaget. Bapak tersenyum melihat reaksi bune “ndak begitu maksudnya bune, maksudnya ya diterima sebagai jodoh begitu.”

“memang kalau maunya seluruh kriteria terpenuhi ya sulit, terutama kemampuan finansial” kata bune. “eh bune bicara finansial, kayak ekonom aja” goda bapak.
“lha gini-gini khan bune pelaku ekonomi tho pak, menteri keuangannya bapak, ngatur gaji bapak, untuk apa saja pengeluarannya dan sebagainya, kalau ndak diatur ya bisa berantakan” bune semangat empat lima menjelaskan perannya.
“iya, makasih ya bune”kata bapak, bune tersenyum ada kebanggaan dapat mengelola keuangan rumah tangga dengan baik.
“untuk dara mestinya tidak melihat sekarang thok, bahwa calon pasangan harus dalam kondisi berhasil sekarang, tetapi bisa melihat potensi calon ke depan, lha kayak bapak, dulu ya pegawai golongan berapa, sekarang Alhamdulillah ya pak”
“dan mungkin juga mengingatkan untuk tidak terjebak bungkus ansich, walaupun kemasan juga punya nilai positif”
“Tapi bapak cuma ngasih masukan aja ya bune, semuanya tergantung dara, iya tho bune?”
“iya pak, kalau terus dara jawabnya ini urusan cinta, urusan hati, urusan rasa… gimana?”tanya bune. Bapak cuma bisa mengangkat bahu.

http://www.merdeka.com/ramadan/sedekah-bisa-percepat-datangnya-jodoh-tausiah-yusuf-mansyur.html
http://www.vemale.com/inspiring/lentera/17265-misteri-jodoh-benarkah-cari-jodoh-itu-susah.html

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

37 tanggapan untuk “DARA”

    1. ndang cepet kelakon,
      “bu ustazah, mohon diakselari dooong, tapi yang syar’i”
      jawab bu ustadzah “ya, yo umi ngerti, ngko tak jodohke karo murabbi” |o|

  1. Dan saya mesem baca tulisan ini.. jadinya,, DARA piye Mbah? Dijodohin apa suruh nyari sendiri?

    Tentang kriteria calon jodoh… kudu yang prospektif gitu ya Mbah? Maksudnya selain bisa jadi imam juga bisa ngayem2ke awak kalau pas lagi ndak ada duit njuk tetep mrekenteng nyari maisyah… *sinahu dari sini*

    Oiya,,, cinta, hati, rasa,, atau ‘greng’ itu apa bisa dibikin Mbah? *ngangsu kawruh* 🙂

    1. sangat bisa dan bisa banget, memang berproses, kedua belah pihak mau belajar, dan mengerem ego (ndak gampang…) tapi bisa bisa banget… 🙂

      makanya Rasulullah SAW ndak pernah menempatkan greng diurutan pertama dalam urusan ini, tapi din, dinnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s