Masjid Raya Singkawang

Inilah gambar-gambar Masjid Raya Singkawang sekarang, megah dan menjulang, sebuah destinasi wisata alternative di kota Singkawang.

Kota Singkawang adalah satu dari dua kota di Provinsi Kalimantan Barat yang mempunyai 14 wilayah setingkat kabupaten. Salah satu ikon wisata di Kalimantan Barat. Dengan komposisi penduduk  muslim 101872  jiwa, katolik 8614 jiwa, protestan 15877 jiwa dan 138 budha (sumber data BPS 2010). Kaya akan budaya, multi kultur, dan ikon yang penting selain klenteng dan keriuhan barongsai adalah Masjid Raya Singkawang.

Masjid Raya yang tegak di jantung Kota Singkawang merupakan simbol kerukunan beragama. Masjid tua selain fungsi utama tempat beribadah umat muslim, Masjid Raya Singkawang juga merupakan peninggalan budaya sekaligus objek wisata di antara kelenteng.

Masjid yang megah dibangun oleh etnis Tambi itu tetap indah dalam kerukunan di antara warga Tionghoa. Masjid yang indah tersebut dibangun kembali bergaya dan dihiasi ornamen Timur Tengah. Dua menara yang menjulang tinggi mengesankan kekokohannya dan dikelilingi pagar yang megah.

Renovasi masjid kebanggaan masyarakat Kota Singkawang ini memang berubah dari aslinya. Direncanakan sejak 2008 dengan kebutuhan dana sekitar Rp7,4 miliar, diperkirakan hanya akan menghabiskan Rp 3 miliar saja. Rendahnya biaya lantaran sumbangan masyarakat tidak seluruhnya berupa uang tunai melainkan juga bahan atau material bangunan.

Masjid tertua Kota Singkawang yang juga menjadi salah satu objek wisata religi ini lebih besar ketimbang bangunan aslinya, sehingga harus dilakukan pembebasan lahan milik warga dan lahan milik Pemkot Singkawang.

Asal Muasal Masjid Raya Singkawang

Pada tahun 1870, Kapitan Bawahasib Marikan, seorang pendatang dari Distrik Karikal, Calcutta, India, datang ke Singkawang untuk berdagang permata (marjan). Saat itu, Bawasahib Marican belum mendapat pangkat Kapitan. Lakon usahanya tersebut setidaknya ditekuni selama sekitar lima tahun, karena pada 1875, pendatang dari Calcutta India ini diangkat Pemerintah Belanda sebagai Kapitan di Singkawang.[2]

Di samping jabatannya, Kapitan Bawasahib Marican juga berkebun kelapa, gambir dan beternak sapi untuk memenuhi ransum tentara Belanda atau disebut Nederlands Indies Leger.[2]

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1885, Kapitan Bawasahib Marican membangun Masjid Raya di kawasan Pasar Baru Singkawang (yang kini tidak lagi disebut kawasan Pasar Baru). Ketika itu tempat ibadah umat Islam di Singkawang ini masih berukuran kecil dan tidak mempunyai menara.[2]

Kapitan Bawasahib Marican membangun Masjid Raya di tanah miliknya yang berbentuk segitiga. Waktu itu belum ada jalan di samping lahan tersebut. Di salah satu sudut lahan itulah dibangun Masjid Raya. Sementara di dekat Masjid tersebut terdapat pula Pekong, tempat ibadahnya etnis Tionghoa yang didirikan seorang kapitan dari China. Jadi, saat itu dua orang kapitan membangun tempat ibadah berdampingan. Kendati berdampingan, para pengikutnya tetap hidup dalam keharmonisan dan kedamaian, tidak pernah terjadi pertikaian antaretnis maupun antaragama.[2]

Terbakar

Sekitar tahun 1927, terjadi kebakaran hebat yang membumihanguskan bangunan-bangunan, termasuk Masjid Raya dan pekong. Praktis, aktivitas perekonomian masyarakat pun tidak dapat berlangsung normal.

Tepatnya, pada 1936 atau sekitar 10 tahun pasca bencana kebakaran yang tidak diketahuinya sebabnya itu, Masjid Raya didirikan kembali. Lokasinya masih di tempat semula, tempat sebelum masjid tersebut terbakar. Sedangkan pekong dibangun bukan di tempat semula atau dipindahkan. Untuk pembangunan tersebut, anak Kapitan Bawasahib Maricar, H Ahmad menyumbang lahan untuk perluasan Masjid Raya Singkawang. Lahan tersebut juga merupakan warisan dari orangtuanya. Selanjutnya anak kedua Kapitan Bawasahib Marican, BM Hanifah Marican menyumbang pembangunan satu menara Masjid Raya. Pembangunanya dilakukan pada 1953 memanfaatkan tenaga Jenawi Tahir. Selanjutnya anak ketiga Kapitan Bawasahib Marican, BM Khalid Marican juga menyumbangkan lahannya untuk memperluas areal Masjid Raya. Kendati semakin luas, bentuk areal tersebut masih segitiga.[3]

Karena areal semakin luas, Masjid Raya pun semakin diperbesar. Rehabilitasi untuk memperbesar tempat ibadah tersebut dilakukan pada 1973. Diperluas lagi pada 1978. Kemudian direnovasi total pada 2007 dan hingga sekarang masih berlangsung.[3]

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

3 thoughts on “Masjid Raya Singkawang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s