kutukan rindu (versi bidadari)

http://www.flickr.com/photos/viana90/

Alunan piano menyelusur setiap relung hati bidadari
menari-nari,
tarian tentang perpisahan
bidadari oleng sendiri menyongsong senja
ketika lagu perpisahan dilantunkan
menyeruak,
memporakporandakan bangunan hati
bulir airmata jatuh
“kenapa kau bawa daku dalam sendu”
tanya bidadari pada mentari
“bukankah sudah diperjanjikan
bahwa pertalian kita adalah pertalian rindu” tanya bidadari lagi,
mentari tak menyahut
“takkan ada luka, takkan ada duka” bisik bidadari lagi

“sudah kukatakan perjanjian kalian, perjanjian berani tentang rindu”
kata ombak menggeram ikut menimpali dalam gelombang beliung
“kalian hanya berfatamorgana”
teriaknya lagi, seraya menghentakkan tubuh dengan marah
“perjalanan waktu, akan membuktikan kataku”
kata ombak berlalu

“bukan begini yang kuinginkan” kata bidadari
jejak-jejak kaki bidadari di bibir pantai
“bukan begini yang kumau” kata bidadari lagi
“ku ingin setia menemani” menatap mentari yang beringsut
nafas bidadari tersengal mengejar mentari yang tersenyum
tanpa sepatah katapun menguraikan arti senyum

sebisik lembut bayu
“jangan kau dengar kata ombak”
“jangan kau kejar mentari, kau kan lelah bidadari”
“jangan kau tentang tatapnya, kau kan buta”
“sabarlah, simpan tenagamu, basuh saja jiwa ragamu”

berselimut malam, bidadari kembali pulang
“bukankah rindumu bermantra Penguasa Malam?”
“bukankah rindumu bermantra doa?”

sebisik alunan piano menemani,
ditatapnya gemintang
hai dia tersenyum,
lalu bercerita tentang perindu seribu perindu
katanya jika memang benar apa yang kau kata tentang rindu itu
bahwa rindumu bermantra Penguasa Malam
Dia kan menunjukkan jalan
lewat bintang-bintang
tapi kau harus buktikan, katanya lagi
dan bahwa rindumu murni,
bahwa rindumu tiada pamrih,
sepenuh rindu,
hanya rindu
sampai rindumu mengkristal
seperti butir hujan yang luruh,
seperti butir hujan yang membasuh,
seperti butir hujan yang menumbuhkan
dan kristalmu akan menjadi biang,
yang menjalar dalam setiap aliran darah
yang menjalar sampai keujung-ujungnya

semilir bayu membelai rambut bidadari
“aneh sekali rasanya” bisik bidadari
duka mencair
kesedihan sirna
dia tidak sedih lagi,
tiada lagi kata perpisahan dihatinya
meski dia membuka setiap pintu,
meski dia memeriksa setiap bilik
kata perpisahan itu seperti tak pernah ada
hatinya menjadi lapang

dalam larut malam dentingan piano seperti menyihir
membersihkan ruang-ruang dihatinya
seperti musim semi kini dia berhias bunga

dan bintang yang saling bercerita
tentang perindu,
kepada perindu
katanya lihatlah bidadari yang merindu
sambutlah dia
dari ufuk timur menyemburatkan cahaya
bidadari telah menerima takdirnya
sepasang sayap membawanya ke bintang
kini dia bersanding
di pelaminan rembulan

(hanya sebuah dongeng pengantar tidur)

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

6 tanggapan untuk “kutukan rindu (versi bidadari)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s