kutukan rindu

gambar dari mbah google

Alunan piano menyelusur setiap relung hati camar
menari-nari,
tarian tentang perpisahan
camar terbang oleng sendiri menyongsong senja
ketika lagu perpisahan dilantunkan
menyeruak,
memporakporandakan bangunan hati
satu bulir airmata jatuh juga
“kenapa kau bawa daku dalam sendu”
tanya camar pada mentari
“bukankah sudah diperjanjikan
bahwa pertalian kita adalah pertalian rindu” tanya camar lagi,
mentari tak menyahut
“takkan ada luka, takkan ada duka” bisik camar lagi

“sudah kukatakan perjanjian kalian, perjanjian berani tentang rindu”
kata ombak menggeram ikut menimpali dalam gelombang beliung
“kalian hanya berfatamorgana”
teriaknya lagi, seraya menghentakkan tubuh dengan marah
“perjalanan waktu, akan membuktikan kataku”
kata ombak berlalu

“bukan begini yang kuinginkan” kata camar
sambil memunguti sisa-sisa senja di bibir pantai
“bukan begini yang kumau” kata camar lagi
“bahwa setiamu menemani?” menatap mentari yang beringsut
nafas camar tersengal mengejar mentari yang tersenyum
tanpa sepatah katapun menguraikan arti senyum
sebisik lembut bayu
“jangan kau dengar kata ombak”
“jangan kau kejar mentari, kau kan lelah camar”
“jangan kau tentang tatapnya, kau kan buta”
“sabarlah, simpan tenagamu, basuh saja jiwa ragamu”
berselimut malam, camar kembali ke sarang
“bukankah rindumu bermantra Penguasa Malam?”
“bukankah rindumu bermantra doa?”
sebisik alunan piano menemani,
ditatapnya gemintang
hai dia tersenyum,
lalu bercerita tentang perindu seribu perindu
katanya jika memang benar apa yang kau kata tentang rindu itu
bahwa rindumu bermantra Penguasa Malam
Dia akan mengajakmu bersemayam
menjadi bintang-bintang
tapi kau harus buktikan, katanya lagi
dan bahwa rindumu murni,
bahwa rindumu tiada pamrih,
hanya rindu,
hanya rindu
sampai rindumu mengkristal
seperti butir hujan yang luruh,
seperti butir hujan yang membasuh,
seperti butir hujan yang menumbuhkan
dan kristalmu akan menjadi biang,
yang menjalar dalam setiap aliran darah
yang menjalar sampai keujung-ujungnya

semilir bayu membelai bulu-bulu camar
“aneh sekali rasanya” bisik camar
duka mencair
kesedihan sirna
dia tidak sedih lagi,
tiada lagi kata perpisahan dihatinya
meski dia membuka setiap pintu,
meski dia memeriksa setiap bilik
kata perpisahan itu seperti tak pernah ada
hatinya menjadi lapang
dalam larut malam dentingan piano seperti menyihir
membersihkan ruang-ruang dihatinya
menjadi padang rumput nan luas
berhias bintang yang saling bercerita
tentang perindu,
tentang sesama perindu
hanya tentang rindu
sampai ufuk timur menyemburatkan cahaya

kalau ini kutukan rindu
biarlah kuterima kutukan ini
bisik camar dalam hatinya, yang kini lapang

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

8 tanggapan untuk “kutukan rindu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s