PUBER ke-2

Senin, 27 Agustus 2012

Bune kembali mengernyitkan dahinya melihat tingkah bapak.
Rasanya sudah beberapa kali bune memergoki bapak dengan tingkah seperti itu.
Pulang kantor bapak langsung mandi. Ganti baju, tapi tidak langsung keluar seperti kebiasaannya yang lalu.
Bune tidak mau membuat bapak kaget karena ketahuan akan tingkah lakunya itu.
Bune membawa teh panas dan pisang goreng mentega itu ke ruang tengah.
“pak !, tehnya bune taruh di ruang tengah” suara bune agak keras.
Dalam bayangan bune bapak sedikit terlonjak mendengar panggilan yang tiba-tiba itu.
“ iya bune. Matur nuwun”sahut bapak dari dalam.
Bune membawa nampan, kembali ke belakang.
Bune berpapasan dengan bapak yang keluar dari kamar. Dilihatnya wajah suaminya itu.
Dan senyuman itu, ya senyuman bapak kok ya kelihatan lain. Kelihatan manis bangeeet gitu. Bune jadi gemes. Dalam hatinya bertanya-tanya ada apa ini.
Bune melanjutkan langkah kakinya menuju dapur, tapi mata bune tidak lepas dari wajah bapak  yang tersenyum, sumringah.
Apa bapak sudah berubah? Hati bune bertanya-tanya penuh heran. Ah…..

Selasa, 28 Agustus 2012

“Assalamu’alaikum” salam bapak setelah menaruh sepatu di rak sepatu.
“Wa’alaikum salam warohmatullah,” jawab Bune sambil menyongsong keluar.
“Bune ambilkan handuk dulu ya pak!” setelah dilihatnya rambut bapak yang sudah sedikit memutih terlihat basah oleh guyuran hujan.
“Tas bapak ndak kehujanan khan pak?” Tanya Bune sambil mengambil Tas bapak.
“Ndak, ndak .., bapak pake jas hujan kok Bun.” “pake jas hujan kok ya rambutnya basah gitu” gumam Bune.
Bune berlalu, mengambil handuk dan segera menyerahkannya ke bapak
“Apa perlu bune masakin air untuk mandi bapak? “tanya bune .
“Ndak usah bune, ..”sambil berlalu menuju kamar mandi.
Seperti kebiasaan sepulang kantor selalu secangkir teh panas, kali ini bune menyuguhkan singkong goreng mentega. Terlihat cantik, singkong mekar seperti kuntum mawar kuning. Bune tersenyum.
Membawa nampan kembali ke belakang, sekilas bune melihat bapak menitikkan air mata di depan cermin. Bune cemas.
Kemarin tersenyum begitu manis. Kali ini menitikkan air mata.
Kemarinnya lagi menyisir rambut begitu lama. Apa bapak memasuki puber kedua ya?
Bune semakin cemas, sungguh cemas. Namun perasaan itu ditahannya.
Bune tahu bapak, sudah sekian belas tahun pernikahan, bapak ndak pernah macem-macem kok. “Apa karena bapak sering di depan laptop ya, tapi setahu Bune apa yang dikerjakan bapak biasa-biasa saja. Kata orang browsing baca berita, nulis, aduuh… “bune semakin cemas saja.

Rabu, 29 Agustus 2012

Suara motor bapak dari kejauhan terdengar. Bune tahu pasti itu suara motor bapak.
Karena setiap kali berbelok arah gang depan rumah bapak selalu membunyikan klakson tiga kali. Memberi aba-aba kendaraan lain yang mungkin lewat.

Kali ini bune sudah menyiapkan teh dan pisang mentega kesukaan bapak di ruang tengah.
Bune tidak mau mau lagi ketinggalan memperhatikan kelakuan bapak setelah mandi.
Bune duduk di tempat tidur menunggu bapak keluar dari kamar mandi.
Bapak sedikit kaget melihat bune duduk di tepian tempat tidur, tapi kemuadian tersenyum manis, maniiiis sekali.
“Ada apa Bune? Kok numben nungguin bapak keluar dari kamar mandi?”
Bune memandangi bapak beberapa saat.
“Bapak tahu bune mau menanyakan sesuatu sama bapak khan?” tebakan bapak tidak bisa ditepis lagi.
Bapak duduk di samping bune, bune memandangi lagi wajah suami tercinta dan “Bapak, apa bapak ndak merasa kalau bapak akhir-akhir ini berubah?” menanyakan sesuatu yang sebenarnya itulah perasaan dia.
Dipandangi wajah yang selama belasan tahun ini menemani. Tidak ada suara. Hanya mata bapak yang memandang penuh cinta. “Haruskah ini kutanyakan?” dalam hati bune mulai ragu. “Hmmm..” gumam bapak membuyarkan pikiran bune yang merambat entah mau kemana.
“Ada apa Bune?” akhirnya bapak bicara,bune menggeser duduknya menghadap ke bapak. “Beberapa hari ini bune perhatikan bapak sehabis mandi terus bercermin,” dipandanginya lagi lelaki yang mulai keluar uban di sana sini satu dua, “lalu…” bapak membelalakkan matanya “lalu… beberapa hari yang lalu bapak senyum-senyum sambil menyisir, hari berikutnya menitikkan air mata..” bune melirik bapak, bapak Nampak senyum-senyum membuat gregetan. Bune mengambil nafas, “kemarin senyum-senyum lagi,… ada apa tho pak?” diguncangnya tangan bapak.
Bapak memandangi wajah bune dengan tatapan sejuk, diselusuri semua lukisan wajah bune, wajah yang telah menemaninya sekian masa, wajah yang mulai kelihatan kerut-kerut kecil di dahi, di bawah mata, masih terlihat menarik seperti dulu, tidak terlalu cantik memang tapi ..ah itu, untuk menggambarkan kemenarikan bune terlalu subyektif.
Dipegangnya tangan bune, ditariknya kepangkuan bapak. “O..itu tho? Kenapa? Bune cemburu ya?” bapak mulai menggoda, bune melotot.
“Bune khan tahu bagaimana bapak, kita khan sudah sekian masa bersama ya khan?”
“Baiklah, bapak jelaskan..begini ketika bapak bercermin dan senyum-senyum sendiri terus bermanis-manis wajah, bapak Cuma ingin tahu senyum termanis bapak itu seperti apa, bapak suka bertanya dalam hati apakah selama bapak menemani bune, bapak sudah memberikan senyum terbaik bapak buat bune, apakah bapak lebih banyak memberikan senyum terbaik bapak untuk orang lain bukan untuk bune, orang yang begitu setia menemani bapak, melayani bapak, menerima adanya bapak, jadi bukan untuk orang lain bune” .
Bune mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca “bapak..” dipegangnya erat tangan bapak.
“Nah kalau ketika bapak berkaca dan menitikkan air mata, bapak melihat wajah bapak, kerut-kerut wajah bapak, rambut bapak yang mulai berkurang dan uban di sana-sini, bapak bertanya apakah bapak sudah menjadi suami terbaik? Apakah masa-masa yang sudah terlewati, adalah masa-masa bapak bisa memberi manfaat, apakah bapak bisa melewati masa-masa ke depan dan mengisinya dengan kebajikan, sepertinya hari-hari bapak Cuma bapak lewati dengan rutinitas, bapak merasa belum memiliki bekal, bagaimana jika bapak pulang dengan tangan hampa, sementara ibu komplain atas perlakuan bapak ke bune dihadapan Allah, lalu bapak harus bilang apa?…”
hening….Bune menitikan airmata, ada haru dan lega, dipandanginya bapak, hanya sebuah pelukan..ya hanya pelukan, tanda terimakasih yang dapat bune berikan ke bapak.
“Bune tidak akan complain ke Allah pak, yang akan bune katakan, bapak adalah suami terbaik buat bune, suami terbaik”…kalimat itu tak terucapkan, hanya pelukan yang semakin erat ke bapak.

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

21 tanggapan untuk “PUBER ke-2”

  1. Komen saya sama dgn komen mba Nita.
    aah indahhh banget! pelajarannya begitu indah..

    semoga nantinya kita semua bisa hidup bersama dengan orang yang kita cintai, persis seperti apa yg diceritakan di atas 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s