Untuk Emak

Adakah kata terindah selain kata bunda? Pernah ku baca itu dalam satu tulisan. Sayapun mengulanginya sekali lagi adakah kata yang paling indah selain kata bunda? Jawab saya tentu saja ada karena saya tidak memanggil ibu saya dengan bunda meski bermakna sama dan maksud penulisnya adalah sama artinya dengan bunda,  seperti  ibu, mother, mama, umi ataupun kata yang semakna dengan itu.

Tapi saya bukanlah orang kota yang terbiasa memanggil ibu dengan sebutan semacam itu, saya hanyalah orang udik yang memanggil ibu dengan hanya menyebut Mak, Emak. Ya Emak, saya tahu kini bahwa kata terindah itu Emak, ya baru kini, setelah kami saling jauh, saya di Borneo Emak di Pemalang kota kecil di Jawa Tengah, baru sekarang setelah saya dewasa dan bukan anak kecil lagi.

Kenapa?

Masa kecil dari keluarga sederhana, penuh keprihatinan meskipun sesungguhnya saya tidak benar-benar merasakan keprihatinan itu, bahkan ketika masa itu kami warga harus makan jatah sembako dari pemerintah, toh kami anak desa menerima itu semua sebagai anugerah bahwa kami bisa makan sesuatu yang tidak biasa dan itu enak dan gurih, entahlah kalau saat ini disuruh makan makanan itu apakah sensasi rasanya sama, saya pikir tidak. Itu sepenggal keprihatinan.

Dengan pengajaran yang keras, yang kadang membuat saya berontak, ini ngga boleh itu ngga boleh, bagaimana mungkin saya menjadi orang yang berani menerima tantangan dunia.

Emak,

Setelah sekian masa baru saya menyadari bahwa rasa perlindungan luar biasa yang besar dari Emak dan doa-doa yang terus mengalir sepanjang perjalanan hidup saya telah dengan tidak saya sadari mengantarkan saya menjadi yang seperti sekarang ini.

“Mas mau kemana? Suatu kali beliau bertanya ketika saya hendak mengayuh sepeda ke rumah teman. “Rumah teman mak,” jawab saya, “ndak usah jauh-jauh, nanti suatu saat kalau kamu sudah berhasil insya-Allah tempat mana saja bisa kamu kunjungi”, “iya mak” hanya itu jawab saya tanpa menghiraukan maknanya.

Sekarang setiap kali nelpon Emak selalu terngiang kalimat itu, yah berkat doa Emak saya telah mengelilingi separo Sumatera, sebagian Jawa dan sekarang sedang menyusuri tapak-tapak hutan Borneo yang tak lagi lebat. Sesuatu yang dulu tak terbayang.  Dan sekarang di sini ada semangat baru lagi kenapa tidak bermimpi menyeberang samudra seperti Aurora Borealis atau mbak Venus. Kenapa tidak?, insya-Allah.

“Bagaimana kabar keluargamu?”, “Keluargaku sehat, Alhamdulillah, berkat doa Emak”.

Terima sujudku Mak, I miss you always.

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s