berbuat baik

mbah gugle

Kita kadang suka uring-uringan melihat kenyataan kehidupan di depan mata kita betapa manusia berbuat sekehendaknya seakan-akan tak terjamah oleh aturan main. Orang-orang yang notabene disebut sebagai penganut suatu agama dan menjalankan ritual keagamaan tertentu, namun pada kenyataan apa yang telah mereka perbuat dan mereka lakukan tidak mencerminkan nilai-nilai yang dari agama yang mereka anut. Mereka berbuat dholim (angkara) dan menyakiti sesama.

Kemudian kita menjadi kagum pada seseorang yang tidak beragama, namun percaya pada sosok Illahi yang bernama Tuhan. (kaum agnostic). Dan menganggap mereka banyak yang lebih baik daripada yang mengaku beragama. Nurani mereka lebih peka, padahal mereka tidak memiliki dan membaca Buku Suci apa pun. Tapi benarkah apa yang kita anggap itu? Benarkah bahwa orang-orang yang beragama ternyata banyak yang menyimpang sementara mereka yang tidak beragama jauh lebih baik karena karena mereka lebih peka nuraninya. Tidakkah kita salah melihat contoh? Atau hanya melihat fenomena di sekitar kita saja.

Mari kita lihat lebih luas lagi dan melihat ke belahan dunia lain, maka tentang perbuatan keji dan mungkarpun akan kita jumpai juga ternyata di sana. Di suatu negeri penganut komunis (tidak beragama) kalau kita lihat orang-orang yang keji dan mungkar maka kita akan melihat bahwa yang yang paling banyak melakukan itu tentu saja kalau kita tanyakan agamanya mereka orang-orang yang tidak beragama. Di belahan amerika kalau kita sensus siapa orang-orang yang berbuat kerusakan, kejahatan dan kebejatan di sana kalau kita tanya agamanya tentu saja banyak yang nasrani, atau di India siapa orang-orang yang berbuat kedhaliman itu tentu saja akan kita jumpai bahwa banyak dari orang-orang beragama hindu yang melakukannya, tentu saja karena mereka mayoritas di dalamnya, demikian juga di belahan dunia lain, di mana satu agama itu mayoritas di dalamnya tentu saja banyak yang berbuat kerusakan adalah penganut agama mayoritas.

Jadi kita jangan skeptis dengan agama tertentu untuk menjugde bahwa agama tersebut tidak benar karena perbuatan ummatnya. Ayolah kita pelajari lagi benarkah metode yang kita pakai untuk menilai itu? Atau sudah terkontaminasi prasangka buruk di awalnya?

Kembali kepada perbuatan buruk yang membuat kita gerah dan tidak nyaman, maka dalam prinsip Islam ada kaedah (berdasarkan firman Allah SWT QS:99:7-8) sebagai berikut :

“Barang siapa yang berbuat kebaikan sebesar zarrah (debu yang kecil)pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrahpun niscaya dia akan melihat balasannya pula”

 

Maka kalau kita mempercayai bahwa setiap perbuatan entah itu baik atau buruk yang kita lakukan akan mendapat balasan dari yang Maha Kuasa, maka kita tidak perlu risau dengan apa-apa yang orang-orang perbuat, baik orang itu mengaku-aku orang yang taat beragama atau orang itu tidak taat beragama, bahwa semua akan tercatat dan tertulis dan nanti tinggal kita tunggu saja siapa di antara kita yang amalannya paling baik dan akan mendapat balasan-Nya.

Tentu saja sambil kita memperbaiki keimanan kita pada Allah SWT, tuhan kita, mana yang lebih baik, sebagai ummat beragama harusnya fanatik terhadap agama yang dianutnya, bagaimana kita bisa menjadi ummat yang baik kalau keyakinan kita kepada Tuhan kita sendiri kita tidak yakin. Maka Tuhankulah yang terbaik. Dan mari kita berbuat baik.

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s