lumer

venice

 

Runtuh semua teori yang hendak ku bangun,

tentang pertanyaaan perlukah ruang untuk membangun kreatifitas?  

Atau untuk apa kita mencari ruang untuk membangun kreatifitas sedang ruang itu dalam diri kita, tentang ketidak-terbatasan ruang kreatifitas yang dapat kita bangun,

Tentang kita yang tak perlu ruang untuk membangun kreatifitas, karena ruang itu sesuatu yang kita ciptakan, tentang tak ada bedanya kita berada di ruang terbuka pegunungan, pantai, padang savanna atau halaman rumah, ruang tamu, ataupun sepotong ruang 3 kali 3 meter.

Atau tentang bahwa kalau kita mau menyelami, apa yang ada di dalam diri kita maka kita akan mendapati bahwa kita bisa membikin ruangan-ruangan sendiri, seluas yang kita inginkan untuk membangunnya. Kita bangun ruang-ruang istana, kamar-kamar mewah hotel berbintang lenkap dengan pernak-pernik seperti yang kita ingin, tempat tidur dengan kain sutra dan manik-manik dari batu manikam, atau zamrud atau safir. Atau kita bangun  istana demi istana atau hotel-hotel mewah yang belum pernah terbayangkan sebelumnya dengan taman aneka bunga, atau kolam renang bertingkat-tingkat, semua bisa kita bikin kita kreasikan, asyik bukan ?

Atau kita ingin menjelajah hutan demi hutan dengan kelebatan yang menyeramkan ataupun yang penuh dengan keindahan variasi alam dan isinya seperti pandora, hewan-hewan eksotis atau bunga-bunga yang tak terbayangkan atau jenis-jenis tanaman baru yang aneh atau penuh warna, kita bisa mengkreasikannya.

Atau kau ingin menjelajah angkasa, mensinggahi planet demi planet atau meneruskannya sampai kau lewati galaxy demi galaxy mencari dan menemukan misteri alam raya, ya kau dapat memasuki ruang itu.

Lalu siapa yang bisa mencegahnya? Kita bebas, bebas menjelajah ruang di kedalaman diri kita tanpa batas, benarkah ?

Hingga sampai pada satu saat, hanya dengan satu gigitan saja semua teori ruang itu runtuh…ya ..runtuh

Hanya dengan satu gigitan saja, tiba-tiba ku terkapar tak berdaya, semua ruang berubah menjadi hitungan tetes demi tetes air infus yang mengalir dari botol plastik menjalar di selang plastik dan masuk ke nadimu, setelah itu maka yang terjadi adalah hari-hari menghitung trombosit dari semula batas normal 100.000 mm3 sampai dengan 150000 mm3 kemudian drop menjadi hanya 40000 mm3 dan terus dipantau kapan trombosit naik, melelahkan. Bahkan istriku pun ikut lelah menjagaku.

Lalu mana batas keangkuhanku tentang semua ide dan gagasan melahirkan kreasi masterpiece, semua lumer bersama selimut yang dinaikkan istriku menutupi tubuhku yang kedinginan sementara temperature tubuhku 39 derajat Celsius.

Manusia akhirnya harus mengakui kelemahan dirinya, nafsu berkarya yang menggebu harus kalah hanya dengan satu gigitan nyamuk saja, lalu nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan?

Terimakasih pada istriku tempat labuhku

Aku terpekur dan hanya mengucapkan syukur ” Ya Rabb, terima kasih telah engkau pulihkan aku dari sakitku, kuakui kelemahan diriku, ampunilah aku dan lindungilah aku dari siksa api neraka” Amin

 

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

2 thoughts on “lumer”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s