Baik dan buruk

masakan jepang

 

Sore-sore gini memang asyiknya ngeteh, bapak memang teh mania tapi Cuma pagi dan sore saja, kalau siang di kantor bapak menyeimbangkannya dengan air putih, dan setiap habis makan juga cukup air putih. Pokoknya bune senang sekali melayani bapak karena bapak itu orangnya nggak neko-neko, bukannya bapak ndak gaul, saat-saat tertentu bapak juga ngajak bune dan anak-anak jalan-jalan makan di luar, tapi ya itu bapak pilih-pilih ndak mau asal sembarangan.
“astaghfirullah, wong binatang-binatang kayak gitu kok ya di makan, apa ya ndak ada yang jelas enak dan halalnya tho ya?” komentar bune saat melihat tayangan di TV extrim kuliner.
Memang sepertinya, sekarang kita sudah mulai tidak peduli lagi kepada apa yang disebut halalan thoyibah. Semua kuliner selagi kita suka, kita mau semua diembat masalah konten itu urusan pribadilah, apalagi kalau dikaitkkan dengan aturan agama, alaah jangan kuno-kuno amat, ini khan menu asyik nikmat maknyus. Kalangan menengah atas ke café-café atau resto-resto, menu dari barat sampai timur, dari makanan yang memang enak sehat sampai yang extrim menjijikan.
Tapi jangan salah, kalangan bawahpun, banyak yang terjangkiti sikap tidak peduli, sikap “yang penting aku dapat untung, aku butuh aku kepepet cari rejeki, mau gimana lagi, aku ndak mau rugi”
Seperti kemarin bune terpekik “astaghfirullah, pak iki lho sini lihat!”
Bapak yang lagi asyik baca Koran, menghentikan baca dan menengok bune “ada apa tho bune?”
“bapak sini sebentar!”, mau nggak mau bapak beranjak dari kursinya ke tempat bune nonton tv. Sebuah stasiun tv swasta menayangkan reportase investigasi tentang bagaimana penjual jajanan yang biasa dimakan anak sekolahan mencampurnya dengan formalin dengan bahan-bahan basi.
“YA Allah, duh gusti, apa ya penjual makanan di sekolah anak kita seperti itu, anak kita kalau disekolah apa ya ikut jajan seperti itu?” “apa bapak itu ndak punya anak? Lha itu khan racun merusak badan, ya khan pak.” “kok yan tega bener, kenapa sih untuk mencari untung yang sedikit aja kok pake cara-cara yang jelas merugikan ?”
“bagaimana anak-anak kita bisa sehat kalau jajannya seperti itu, apa ya sekolah peduli mau memperhatikan penjual jajanan di sekolah? Atau setidak menanyakan ke para penjual itu apa yang dijual itu diproses dengan halal dan baik?”
“ya bune, kok ya, ngeri sekali negeri ini, orang-orang gedenya seperti itu korup, sekarang orang kecil curang dan jahat dengan cara-cara seperti itu?, merusak generasi muda tanpa mereka sadari”
Bapak berharap itu hanya sebagian kecil saja, dan masih banyak yang berbuat ihsan/baik dalam usaha mereka, tidak mencampurkan racun dan bahan tidak halal dalam makanan produksi mereka.
“kadang-kadang tv ya kebangetan, maksudnya ngasih tahu ke pemirsa ada hal-hal buruk di sekitar kita, tapi detailnya minta ampun lha itu khan bisa ditiru oleh orang-orang yang tadinya ndak tahu jadi tahu caranya, padahal khan mestinya cukup ini lho di konten ini ada campuran busuk dan racun dan kemudian cukup kasih trik dan tip mendeteksinya saja yang diajarkan disiarkan, ndak usah sampe caranya bikin, kebablasan, itu kayak ngasih conto jadinya, apa memang pengin nyontohin, terlalu!”
Ya, pada akhirnya kembali ke kita sendiri sih, Allah ngasih aturan boleh dan tidak sebenarnya untuk kebaikan kita manusia, karena Allah tahu persis karakter tubuh manusia, wong kita ciptaan-Nya kok, maka Dia ngasih tahu jangan yang ini lho nanti kamu sakit, mungkin ndak sekarang tapi nanti.
Terus sebenarnya larangan Allah itu khan cuma sedikit dibandingkan yang dibolehkan-Nya, jadi kenapa kita beresiko mengambil yang dilarang sementara kita sakit dan celaka, dibanding dengan mencari dan menikmati yang halalan thoyibah dan kita sehat dan dapat berkah. Allah sayang kita.

Silahkan pilih! Wong kita bebas milih, tapi resiko ya kita yang nanggung juga.

 

 

 

gambar : dari mbah google

 

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s