rumah besar itu

Orange-House-by-YAZGAN-Design-Architecture-4

Seperti biasa pulang kantor melewati jalan protokol, sesekali melewati kawasan elit. Banyak sekali rumah besar kayak istana yang walaupun asri dan megah, tetapi selalu terlihat lengang dan senyap, entah penghuninya kemana, dan mungkin di dalamnya hanya ada pembantu.
Kadang aku mengira-kira orang kaya bisa tidur di mana saja, hari ini rumah yang di jalan a besok rumah di jalan b, kadang juga tidur di jalan.
Orang-orang seakan berlomba membuat rumah besar di kota a satu, kota b satu, kota c satu dan seterusnya. Keinginan yang kemudian menjerumuskan pada mencari harta yang tidak halal, korupsi. Kadang aku berpikir ngapain punya rumah sebesar itu kalau hari-harinya sepi. Terjebak pada kesibukan.
Tapi tidak dengan rumah yang satu itu, rumah itu lumayan besar tapi tidak terlalu besar seperti istana, halamannya luas banyak pohon dan bunga-bunga. Hampir setiap pulang kantor aku lewati rumah besar itu.
Rumah yang satu itu selalu terang di sore hari dan terlihat begitu riang suasananya, sepertinya banyak sekali penghuninya.
Kau mengira itu hotel ? bukan, bukan hotel, yang kutahu bukan hotel, tidak ada tempat parkiran yang luas di situ atau resepsionis. Walau yang dating silih berganti. Pintunya selalu terbuka. Kadang terdengar suara ketawa bercanda tapi kadang ada juga yang menangis entah karena apa, tetapi selalu saja ada suara lain yang menenangkannya.
Sekali-sekali aku berhenti, hanya untuk memandang rumah itu, mencuri dengar pembicaran kadang-kadang bergumam ikut menimpali pembicaraan, aku ndak berani bersuara keras, karena takut mengusik penghuninya.
Tidak terasa aku berdiri di situ kadang sampai agak malam, aku tersenyum sendri dan heran dengan kelakuanku. Mungkin karena rasa sepi, belantara ibu kota yang panas dan sibuk, tapi rumah itu terlihat begitu sejuk, memantulkan aura keriangan. Sehingga aku seperti terhipnotis.
Kali ini aku hanya mampir sebentar memandangi lampu-lampu yang benderang, dan terus berlalu, pulang dan tidur.
Hingga pada suatu hari temanku menegurku karena heran menjumpaiku berhenti seperti biasa di ujung rumah itu, dan senyum-senym sendiri.
“hai!, ngapain kamu di situ senyum-senyum sendiri memandangi cahaya lampu?” aku kaget, sebentar.
“tidakkah kau dengan suara-suara itu, begitu riuh, tidakkah kau heran rumah besar itu begitu riang?” jawabku
Dahi temanku berkerut “?!”, “keriuhan yang mana?, aku tidak mendengar apa-apa.” Jawabnya
“sini!, cobalah berhenti sejenak, dan coba pandanglah seliling tidakkah kau lihat ada yang berbeda dengan rumah itu? Setiap rumah besar yang kita lewati sepulang kantor, selalu terlihat sepi dan suram walaupun ada lampu-lampu menerangi, tapi rumah ini lain, tidakkah kau merasakan suasananya ?” jawabku meyakinkan.
Kelihatan temanku tambah bingung, aku juga jadi ikut bingung dengan kebingungan dia.
“sudahlah, aku pulang duluan ya, sudah penat nih mau mandi” jawab temanku sambil berlalu dan geleng-geleng. Akupun melanjutkan perjalanan pulang, kupandangi sekali lagi rumah besar itu, sepertinya memanggil-manggilku, tapi tak kuhiraukan, akupun pulang.
…..
Hari ini pekerjaan agak kacau, ndak konsen, target laporan ndak selesai-selesai, aku kena tegur atasan. “ya pak, sebentar lagi saya selesaikan” jawabku sekenanya.
Hari ini aku bertekad untuk masuk ke rumah besar itu, sudah tak tertahankan lagi rasa penasaran itu. Kulihat jarum pendek jam dinding menunjukkan ke angka empat, akupun bergegas merapikan meja kerjaku, memasukkan laptopku ke dalam tas dan segera melaju kendaraanku menuju rumah itu.
Kali ini aku tidak mengendap-endaap, kuparkirkan kendaraan di halaman di rumah dan kuketuk pintu itu.
“Assalamu’alaikum…..,”
“bolehkan aku ikut menikmati suasana keriangan kalian?” sejenak dan kupikir hanya sejenak suasana diam, ada yang mengeryit, setelah itu cair lagi seperti biasa rame bahkan tambah rame malah.
Maka sejak sore itu akupun ikut, ngobrol bersama mereka. Ketika malam menjelang larut akupun pulang. Sudah tidak bisa dipisahkan lagi rasanya. Aku ingat waktu itu aku mengenalkan diriku.
“camar”
…………
Apakah harus ada ijin untuk suka
Apakah perlu alasan untuk cinta
Apakah harus ada sebab untuk menjadi gila

(selamat libur dengan gembira)

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

kicaucamar

seperti camar yang terbang melintas pulau menapaki waktu dengan suara ombak di https://katacamar.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s